lagi-lagi,
karena iseng buka2 file-file lama di komputer, saya menemukan lagi beberapa tulisan kuno dan antik buatan sendiri. setelah dilihat, dibaca, dipikir, disenyumin ^_^ akhirnya diputuskan untuk mempublish di blog. yah, itung2 promosi lah. nanti kalo emang ada yang muji yah syukur… kalo ga ada yang muji ya.. seperti biasa … PUJI DIRI SENDIRI AZZA…. (hidup narsis!!)
- KALILAH -
kalilah,
bagaimana kabarmu cinta?
masihkah matamu terpejam saat ini
karena aku akan membangunkanmu dengan bisikan
sebelum kita melintasi savana berlangit teduh
dengan kepak sayap kita
[malang, 19 desember 2005 (06:58)]
- (tanpa judul) -
Dan saat aku
terbangun
Engkau telah
terbang bersama angin
Lenyap bersama
semua mimpi dan bintang-bintang
[malang, september 2003]
-SURAT UNTUK EMBUN DI UJUNG DAUN (LAGI???)-
yg mau liat versi lainnya klik di sini –> (versi lain)
Bagaimana
kabarmu, Embun di Ujung Daun?
Telah jauhkah
berlarimu
Dalam pekat debu
yang tertinggal
Dalam gelap mimpi
yang tak terjawab
Bagaimana kabar
bintang-bintang di langit kita?
Masihkah tetap
indah di sana
Menerangi jiwa
yang tak pernah diam, kita yang selalu menatap, tangis yang belum berakhir
Dan setia
menuntun hati yang beranjak pergi
Setelah perih
Setelah pedih
Di pucuk kata
lalu kusemai luka
Sehingga harus
diam melepasmu pergi
Telah jauhkah?
Atau lelahkah?
Jika lara
terlabur sudah
Biarkan aku
menjemputmu
[September 2003]
- PANANIH -
Mereka
menyebutnya pananih, si hati sedih.
Ia berjalan
dengan menundukkan kepala, menutupi wajahnya dengan rambutnya yang hitam tak
beraturan. Lurus, kira-kira sepundak. Wajahnya tertekuk dalam. Matanya selalu
melihat ke bawah, tak pernah menatapmu. Seperti mencari sesuatu yang hilang.
Pananih selalu
sedih, datang dengan tertatih dari sudut lorong-lorong yang hitam. Tubuhnya
yang kurus terasa membebani langkah Pananih. Ia tak pernah menatapmu, seperti
takut kenghadapi kenyataan.
Pananih yang selalu
sedih, tak pernah mengharap langit, karena ia jauh terusir dari sana. Seperti
ia pun ditolak bumi. Tak punya harapan, tak memiliki kawan. Pananih tak berani
memandang dirinya sendiri, yang tak lebih dari kisah kematian usang.
Pananih, si hati
sedih selalu datang kepada siapa saja yang selalu sedih…
[malang, 12 mei 2004]
- PERTAMA -
Betapa aku takkan
lupa
Embun pertama
yang engkau perkenalkan
Di bawah mentari
malu-malu bulan Juni
-kenshin: to mama
sanchai-
[10/06/2004]
puisi di atas aku bikin waktu Sanchai (nama kucing betina) ngelahirin Kenshin (tentunya kucing juga). sampai sekarang, Sanchai masih hidup, tapi Kenshin gak smpai 6 bulan sejak kelahirannya, hilang ga tau kemana T_T
Yup. that’s all. oia, aku punya kebiasaan untuk menuliskan tanggal pas aku nulis atau gambar sesuatu. ternyata, ada asyiknya juga, pas udah lama banget dan aku baca lagi. seakan-akan semua cerita yang dulu terjadi pas aku bikin tulisan/gambar itu terlintas lagi… oh, memories.. :p
kalo ga percaya, coba aja ^_^
met nyoba…