kemarin aku buka2 file komp nya ayi. di bagian folder titipanku, aku nemu tulisanku pada saat aku sedang bersemayam di kostnya ayi. setelah diliat, dibaca, dirasa-rasain, kok ya agak lucu dan gimana gitu. jadinya aku copy aja dan supaya bisa diliat temen2 juga deh. mo suka mo enggak ya terserah aja, yg penting, blog-ku update terus, gak kayak punyanya qrewul (blog apa blong? - kosong! he..)
silahkan mencermati ya..
jika kau ingin pergi
jika engkau ingin pergi
pergilah saja
karena memang tak berhak aku menahan langkahmu
tetapi
kumohon bawalah juga semua kenangan dan rasa ini bersamamu
jauh hingga tak lagi kupandang
bawalah semua hingga tak bersisa
dan aku takkan apa-apa
agar aku tak pernah ingat
tak pernah merasa dan mengharap
dan aku takkan apa-apa
malang, 10 maret 2005
surat untuk embun di ujung daun
cukupkah berlarimu?
engkau embun di ujung daun
dan semua yang engkau tepikan
debu yang engkau tinggalkan
lelahkah dengan semua ini?
hingga menutup mata dan benci
dan semua yang engkau nafikan
semua yang engkau salahkan
langit tidaklah begitu jauh
tetapi tetap tidak akan terpegang oleh kita
mengapa tidak bisa menarik nafas panjang
kemudian melihat semuanya sekali lagi dengan lebih baik
mungkin tak akan sama
tetapi memang itu yang kita punya
cukupkah berlarimu?
engkau embun di ujung daun
yang dipesonakan sinar dini matahari
dan aku akan selalu menatapmu
dalam diam
malang, 9 maret 2005 - ini sudah lama ada di hati, baru kesempatan ditulis aja. biar gak lupa
dari langit aku bercerita
kali ini aku melayang
tidak dengan sayap, hanya dua tangan
tak perlu dikepakkan, karena kuhanya melayang
di gumpalan awan-awan
kali ini aku melayang
tidak dengan nyanyian burung camar
air mata saja
bahwa bukan hidungku yang sakit, tetapi hatiku
aku benar-benar entah!
mata kupejamkan, hanya sesekali kubuka
tidak ada yang begitu berharga
meski samudera, pepohonan dan gunung-gunung ada di bawah
tak ada yang kurasa istimewa
semuanya sama - tidak ada yang istimewa
"jangan gunakan mata dan telinga
hanya akan membuat jiwa lebih sakit
lupakan semua
dan berkawanlah dengan batu…"
samar kudengar..
samar kudengar..
"jangan gunakan mata dan telinga
hanya akan membuat jiwa lebih sakit
lupakan semua
dan berkawanlah dengan batu…"
samar…
samar…
lalu aku berpuisi
pada samudera batu
pepohonan batu
gunung-gunung batu
aku terus bernyanyi
pada langit batu
angin batu
awan batu
tetapi mengapa air mataku tetap mengalir
pada wajah batu
tubuh batu
hatiku yang membatu
malang, 4 maret 2005 07:43
hidup alir sungai
hidup itu
mengalir seperti anak sungai
jalannya terkadang sangat cepat
dan terkadang begitu pelan, sehingga semuanya terasa begitu bermakna
hidup itu
mengalir seperti anak sungai
berliku-liku dengan banyak peristiwa yang tidak semuanya kita fahami
kita hanya bersyukur, karena segalanya jadi sebuah cerita dengan kita sebagai aktor utamanya
begitu banyak hal yang kita lalui
tahukah, tidak ada satupun yang lepas dari ingatan sang zaman
yang akan terus diceritakan dari generasi ke generasi
dikisahkan melalui angin-angin yang bertiup pada musimnya,
menggerakkan awan lalu turun manjadi kisah hujan
dan mengalir lewat sungai-sungai
hidup itu
mengalir seperti anak sungai
berawal dari hulu
dan juga akan berakhir di muara lautan
saat semuanya hanya bisa kita pandang dari jauh, yang tanpa terasa telah melalui panjangnya waktu hidup kita
malang, 5 maret 2005
bangun tidur 2 maret 2005
kita yang seperti ini
bagaikan debu yang disingkirkan dari jalan-jalan kusam
kemudian tertiup angin
dan hilang dari layar cerita panggung sandiwara
dunia sudah sangat tua
usia kita bukan apa-apanya
tapi tidak pernah pergi
hanya berputar di ujung jarum jam yang berdetak-detak
selalu kembali
apa artinya semua ini?
mengapa manusia harus datang
dan kemudian pergi
terlahir, dan mati lagi?
walau terkadang tergambar dari wajah mereka yang baru saja dipanggil lagi
- Tuhan, belum cukup aku bermain di sini …
sedangkan aku
sudah lelah,
tak kuat lagi melangkah di atas dua kaki ini
menyisir baris-baris dialog dan episode yang tak pernah bisa diduga
- Tuhan, belum cukupkah aku bermain di sini?
tak pernah sanggup terbang lagi
dengan sebuah sayap di pundak yang tercabil-cabik pada seluruh bagiannya
- kini tanpa rasa perih
(takkah Kau kan bangunkan aku, dengan pelangi yang dapat kupandang dari lubang jendela kamarku?
dan aku menangis memujiMu? )
ah, sepertinya kita semua sudah cukup mengerti
bahwa kehidupan adalah sebuah kertas kosong
yang kita tulis dan lukis dengan semua yang kita jalani
dan sang waktu adalah garis tepinya
- kau tak dapat menulis di luar garis tepi!
mati adalah pergi
mungkin begitu saja
hanya saja, kita tak perlu repot berkemas-kemas membawa bekal dan pakaian
tak perlu ada surat-surat perjalanan dan data-data awal seperti sebelum kita keluar untuk survei
tapi, kita tetap membawa bekal
yang akan jadi kunci kita untuk membuka salah satu dari dua gerbang
yang atas, atau bawah…
- sahabat, apakah kau masih akan mengenaliku? walau hingga kehidupan yang tanpa alasan nanti?
atau
kehidupan kita nanti hanya seperti saat berada di rumah peristirahatan tepi pantai
dengan angin dan bau laut
-jika boleh memilih, tawa kalian yang kuminta ada di sisiku
tapi, siapa tahu?
jangan-jangan kehidupan nanti adalah sebuah wajan yang sangat panas
yang dinyalakan dengan penyesalan-penyesalan
sebuah alasan keterlambatan menyadari tema cerita hidup tidak akan membuat apinya padam
tanpa bumbu, kita hanya punya jutaan hari penuh penyesalan
-aku tak layak di surgaMu, tapi aku tak kuasa dalam nerakaMu (abu nawas)-
hmm
kurasa sudah saatnya menarik nafas lebih panjang lagi
mencoba menghargai semua yang ditakdirkan bagi kita
yang tak kan kita tahu apa itu sebelum kita berusaha mendapatkannya
kurasa sudah saatnya
berpikir lebih tajam lagi
hingga kita selalu faham bahwa kita harus siap kapan saja dengan bekal yang sudah kita kumpulkan
kurasa sudah saatnya
mendengar, melihat dan merasakan lebih jelas lagi
hingga dapat kita mengerti, betapa sayangnya Dia
bagaimana indahnya caraNya berbicara
melalui angin, air, tanah, gunung, danau, daun, batu, buah, mata, rasa, sungai, buah, suara, warna …
bagaimana agungnya Dia
-yang seringkali tidak kita agungkan
Rabb,
Engkau tetaplah Suci, bahkan jika seluruh dunia ini menghianatiMu
Malik,
Engkau tetaplah Tinggi, bahkan jika seluruh dunia ini mengabaikanMu
Ilah,
Engkau tetaplah Agung, bahkan jika seluruh dunia ini menolakMu
yang kutahu, aku ada karenaMU
aku pun akan pergi karenaMu
setiap yang kulalui adalah ijinMu
dan aku tak perlu alasan lain yang membuatku tetap di sini
sungguh
i l**e U
malang, 2 maret 2005
ya ampun, aku belum balikin buku perpust!
aku pergi - smu
ada tiada diriku
tak menambah apapun
dengan tanpa diriku
tak merubah apapun
sudahlah
aku pergi
puisi ini aku tuliskan di papan tulis SMU dulu, pas teman2 yang lain sudah pada pulang.
kamu tau, rasanya kesepian?
^_^
dulu itu, aku memang sering meninggalkan puisi di papan tulis kelas III SMU. tapi tentu aja tanpa identitas.
eh, pernah yang suatu hari aku datang ke sekolah (kemarinnya aku juga ninggalin puisi), waktu itu aku masuk
pas guru pelajaran pertama sudah di pintu kelas. eh, teman2 pada ngliatin aku sambil senyum2 aneh. aku langsung liat ke papan tulis…sial! puisiku belum mereka hapus. isinya tentang .. love.. he3x wah, kayaknya mereka tau aku yg nulis itu puisi. udah deh, kejadian… bahkan dulu sempat juga aku dikira naksir temenku, gara2 puisi yang kutulis.
habis itu ada deh konferensi pers, mengklarifikasi maksud tulisan itu. heran juga..kalo chairil anwar boleh pura2 menjadi binantang jalang dalam puisinya, kenapa aku gak boleh pura2 jadi seseorang yg sedang jatuh cinta?
waktu semester awal, terjadi perubahan besar2an dari tema2 puisiku. kalo smu dulu isinya tentang cintaaaaaa aja,
pas awal kuliah, di dinding kamarku, yg tertempel di sana, puisi2 suram semua…
- hanya mencoba mengerti -
kalo sekarang, kayaknya sudah mulai berimbang lagi. kadang2 tentang cinta, kadang2 tentang arti hidup.
- karena aku terpaut cinta yang menghidupkan -
udah ah
malang 8 maret 2005
aku pulang
bagaimana aku dapat berlari dan bersembunyi darimu?
padahal engkau yang kuletakkan di dalam hatiku
memangnya, hendak mengadu kepada siapa?
padahal engkaulah tempat air mataku bermuara
sudahlah
sepertinya kita berdamai saja
dan aku akan berlari kepadamu
mboh! malang, 8 maret 2005